Kapal Nabi Nuh ala Cimalaya Girang

Setelah berlelah-lelah ria di hari pertama #jalanjalanmigas, di hari kedua ini kami mengunjungi Desa Cimalaya Girang, yang berada di wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat. Desa Cimalaya Girang termasuk dalam wilayah operasi dan juga salah satu desa binaan PHE ONWJ. Rencananya, di hari kedua ini kami akan bertamu di “Kapal Nabi Nuh”.

18 November 2016

Kapal Kehati Greenthink : Selayang Pandang

Kapal Nabi Nuh yang akan kami kunjungi ini ternyata bukan sembarang kapal (Memang ternyata bukan kapal, eh). Yap, suatu tempat yang kami kunjungi ini adalah “Kapal Kehati Greenthink” , sebuah wilayah bumi perkemahan yang digunakan juga sebagai tempat penanaman berbagai jenis macam tumbuh-tumbuhan dan juga peternakan ikan.

Usut tau usut, pengambilan nama ini berdasarkan filosofi kapal Nabi Nuh. Sebagaimana kita imani, kapal Nabi Nuh merupakan sebuah kapal raksasa yang menyelamatkan berbagai jenis makhluk hidup dari bencana (baca : adzab) berupa banjir bandang yang menyelimuti permukaan bumi. Begitu juga Kapal Kehati Greenthink, pada awalnya wilayah ini merupakan milik Perhutani, yang kemudian disulap menjadi bumi perkemahan.

Asal muasal bumi perkemahan

Jadi begini, dulu, sebelum dibentuk bumi perkemahan di daerah Cimalaya Girang, untuk berkegiatan berkemah, pramuka Kecamatan Blanakan harus pergi berkilo-kilo jauhnya. Atas inisiasi seluruh anggota pramuka di Kecamatan Blanakan, para anggota pramuka mengumpulkan uang secara patungan untuk membeli tanah perhutani ini untuk diubah menjadi hutan pendidikan sekaligus bumi perkemahan. Hingga akhirnya, kawasan ini dikembangkan menjadi kawasan ekowisata dan selanjutnya akan menjadi percontohan Integrated Farming System. Menurut Pak Roji, yang merupakan perwakilan desa, hal ini merupakan wujud mimpi masyarakat daerah Cimalaya Girang, karena sebelum terbentuknya wilayah ini sangat jarang ditengok oleh orang. Maklum, selain akses yang cukup sulit, di wilayah ini juga tidak ada tempat iconic yang bisa dikunjungi oleh banyak orang.

Asal muasal “Kehati” dan “Greenthink”

Ternyata PHE ONWJ dan beberapa warga sekitar yang tergabung di Komite Pemberdaya Masyarakat tidak sendirian loh, dibalik penamaan “Kehati” dan “Greenthink” ada peran konsultan, hihi. Jadi, kata “Kehati” merupakan akronim dari “Keanekaragaman Hayati”, sedang “Greenthink” merupakan nama dusun tempat kawasan ini dikembangkan, yaitu “Dusun Grinting”. Yap, menurut penafsiran ane, maksud penamaan ini merupakan cita-cita dari pembangunan yang berkelanjutan, dimana harus terjadi pergeseran paradigma dari hanya memanfaatkan yang ada saat ini menuju ikut berperan untuk kehidupan generasi yang akan datang.

Berani Kotor Itu Baik

Setelah mengetahui asal muasal dari Pak Roji, kami mendapatkan challenge berupa games bersama anak-anak usia sekolah dasar. Serunya, game yang kami mainkan bersama anak-anak ini memaksa kami untuk berkotor ria di lahan becek sehingga pakaian kami penuh dengan bercak-bercak lumpur. Dari game mengambil bola warna sampai memberi nama pohon dan tanaman misterius yang bagi kami -mahasiswa teknik- mungkin ga terlalu familiar dengan hal-hal biologis.

dsc_9748

Kalian semua suci, aku minum soda. Hm.

dsc_9574

Mengatur stategi untuk games selanjutnya.

Pada akhirnya, terik matahari menutup hari terakhir dari rangkaian #jalanjalanmigas bersama SKK Migas dan PHE ONWJ. Tentunya banyak life lessons yang pastinya sangat berharga bagi kami.

Sampai jumpa lagi Tanjung Sedari dan Cimalaya Girang, lain kali kita berjumpa lagi.

Iklan

Menjembatani Asa Sedari

Waktu menunjukkan sekitar pukul 4.45 pagi ketika suara klakson abang Go-jek memanggil ane untuk segera bergegas menuju titik kumpul #jalanjalanmigas di Gedung YTKI, daerah Gatot Subroto, Jakarta. Perjalanan menuju YTKI menempuh waktu hampir 45 menit, maklum, sejak dua hari sebelum keberangkatan ane bermalam di kawasan Krukut, Depok.

17 November 2016

Setibanya di YTKI, ane langsung diminta untuk mengisi absensi, kemudian bergegas ke mobil wisata semacam Elf (ane ga tau elf itu nama mobil atau jenis mobil, atau nama fans group, eh) dan langsung ngutak-ngatik draft postingan wordpress yang udah semalem ane buat. Setelah semua peserta lengkap, kami pun berangkat menuju Desa Tanjung Sedari yang terletak di ujung utara wilayah Kabupaten Karawang, dengan estimasi waktu tempuh sekitar 5,5 jam, wow. Perjalanan kami menggunakan mobil terpaksa harus terhenti karena akses menuju Desa Sedari belum bisa dilalui oleh kendaraan beroda empat karena masih dalam tahap perbaikan jalan. Alhasil, satu-satunya akses kami untuk menuju Desa Sedari adalah menggunakan perahu warga! (this one was absolutetly challenging! lebay). Sebenernya biasa aja sih, cuma ya banyak hal-hal yang diperhatikan selama bertransportasi di perairan menuju Desa Sedari, semisal setiap penumpang perahu harus waspada terhadap benturan kepala karena banyaknya jembatan perlintasan maupun kabel-kabel di sungai yang bermuara di Tanjung Sedari ini. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit (lama yha), akhirnya perahu yang kami tumpangi menepi ke Desa Sedari.

img_0031

Numpang narsis dari kiri ke kanan : Amanah (Hukum – UIN SGD Bandung), Raka (Hukum – UGM), Kak Emil (SKK Migas), Kak Alfian (SKK Migas), Andre (Geofisika – UGM).

Bertamu di Desa Sedari

Setibanya di Desa Sedari kami diarahkan untuk melihat fasilitas reverse osmosis yang dibangun bersama oleh warga dan pihak PHE ONWJ. Fasilitas reverse osmosis ini sangat membantu masyarakat Desa Sedari untuk mendapatkan air yang layak untuk diminum. Sebelum adanya fasilitas ini, masyarakat Desa Sedari mengandalkan air tadah hujan, karena kita tahu air payau bahkan air laut tidak termasuk kategori air layak minum.

img_0039

Fasilitas reverse osmosis di Desa Sedari, Kab. Karawang, Jawa Barat.

Setelah mengunjungi fasilitas reverse osmosis, kami dipandu untuk mengunjungi PUSTU. PUSTU atau singkatan dari Puskesmas Pembantu adalah fasilitas yang dapat digunakan masyarakat Desa Sedari untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Oh ya, mengenai Desa Sedari, desa ini merupakan desa binaan FKMUI dan PHE ONWJ dengan perjanjian kerjasama Surat Kuasa Khusus Nomor 032/Swakelola-PHEONWJ/MSCM/III/2014/UI-FKM.

Screenshot (1).png

Gak sempet foto, jadi screenshot dari video, hehe. Maksa.

Tidak lama kami melanjutkan perjalanan, kami disambut oleh Bapak Bisri, beliau merupakan Kepala Desa Sedari. Beliau memberikan sedikit sambutan dan kemudian menjamu kami untuk santap siang di rumahnya.

img_0042

Pak Bisri (Batik Coklat).

img_0052

Yuk mbak, mas, makan yang lahap-hap 😀

Visiting PHE ONWJ’s MB2 Facility

img_0056

Kuy masuk dong kak, ya kali ga kuy hihi. Udah ga sabar nih~

Beres santap siang, akhirnya sesi ditunggu-tunggu tiba! Site visit! (lah kok bagian dijamu ceritanya malah dikit yak, heu). Yap, MB2 ini merupakan satu-satunya field PHE ONWJ yang terletak di onshore loh! (Lah kok kunjungannya malah ke onshore sih, bukan ONWJ lah kalau cuma ke onshore doang). Ya memang asa kumaha sih (ekspektasi beberapa teman peserta ternyata juga pingin ke platform). Wait, sebenernya banyak pertimbangan kalau kunjungannya harus ke platform, seperti faktor kapasitas (1), masukin 20 orang belum termasuk panitia penyelenggara ke platform tentunya merepotkan kegiatan di anjungan. Permit (2). Yap, perizinan untuk pergi ke lepas pantai itu sulit, hm bukan sulit sih, tapi lebih ke faktor safety-nya. Seenggaknya yang ingin berkunjung ke platform mengerti dan mengetahui basic sea survival jika terjadi sesuatu yang membahayakan di lepas pantai sana. Pasang (3). Kondisi perairan Sedari pada saat ini sedang pasang, kebetulan kunjungan kemarin itu masih berada di pertengahan bulan (masih tanggal 17 bulan Safar), ditambah fenomena supermoon beberapa hari yang lalu. Bahkan, saat kami tiba di Desa Sedari, beberapa rumah warga terendam air rob. Kakak-kakak penyelenggara juga tentunya sudah memikirkan secara matang mengenai berbagai macam resiko yang mungkin terjadi pada saat kegiatan berlangsung. Pokoknya harus tetap bersyukur lah ya, hehe.

Briefing dan Safety Induction

Sesi safety induction dibuka oleh Pak Fajar, beliau merupakan “kuncen” dari MB2 facility. Setiap orang yang baru berkunjung ke sebuah facility/site wajib mengikuti sesi briefing dan safety induction. Sesi ini bertujuan agar jika terjadi sesuatu yang membahayakan di site (seperti kebocoran, kebakaran/ledakan bahkan ada hewan membahayakan seperti -ehm- ular kobra *asli loh*) para pekerja/pengunjung bisa melakukan tindakan pengendalian terhadap bahaya tersebut. Kemudian sesi briefing diisi oleh Pak Rahmat Hakim, beliau menyampaikan materi tentang brief outline PHE ONWJ dan perkembangan energi Indonesia. Sembari sesi briefing dilakukakan kami dipanggil bergantian untuk melakukan MCU berupa cek tensi. Sebenernya sesi mcu ini yang paling ane khawatirkan, khawatir hasil yang didapat ternyata tidak mengizinkan untuk muter-muter site. Tapi berhubung ini acara kunjungan biasa, jadi kami semua diloloskan pada sesi ini, hehe.

img-20161119-wa0001

Cekrek dulu sebelum safety induction (Photo by Kak Emil)

Mangrove Ranger

Kurang lebih 1 jam mengikuti sesi safety induction dan pembekalan, kami diberi instruksi untuk segera menggunakan coverall. Wah ini yang kami tunggu-tunggu, kesempatan untuk menggunakan coverall dengan badge PHE ONWJ akhirnya kesampaian juga. Sesi selanjutnya yaitu menanam bibit mangrove di lingkungan sekitar fasilitas MB2. Usut tau usut, ternyata kami bukan yang pertama menanam bibit mangrove disini. Sejarahnya, karyawan PHE ONWJ sudah menginisiasi program ini sejak medio 2013-2014 dan program ini dinamakan “Orang Tua Asuh Pohon”. Serunya, bibit mangrove yang kami tanam ternyata dinamakan sesuai dengan nama yang menanam loh! Wah, jadi punya kembaran nih dalam wujud lain nih. Berlumpur ria, sampai susah jalan karena boots yang kami gunakan masuk ke dalam lumpur tidak mengurangi semangat kami untuk terus menambah bibit mangrove untuk ditanam. Seru!

image_6744910

Gagal fokus sama tangan kananku, kok gak dilengkip ya? Padahal coverall itu dari Jakarta baru dilaundry loh (Photo by Mas Ben Minyak UPN)

image_fa48dbc

Pengarahan sebelum nyebur ke ladang mangrove, eh (Photo by Mas Ben Minyak UPN too)

img-20161118-wa0003

Finalis #jalanjalanmigas berfoto bersama, pokoknya mata pancing ya. Kalian warbiyasah! (Photo by Kak Emil)

Pamit

Beres berlumpur ria, akhirnya kita kembali ke headquarter untuk segera menanggalkan coverall dan pamit pulang (andai saja coverallnya bisa dibawa pulang, hiks). Ya, kegiatan menanam mangrove menutup rangkaian #jalanjalanmigas hari pertama. Udah ga kerasa hampir 2 tahun sejak menanam mangrove pas beres osjur di Madura sana (ya baper). Sepanjang perjalanan hanya bisa termenung (mungkin karena lelah), membayangi masyarakat desa sedari tanpa akses yang cukup baik bila ingin bepergian untuk memenuhi kebutuhan. Ya dua buah jembatan yang sudah dibangun serta perbaikan jalan yang kini sedang berlangsung diharapkan akan terus memperpanjang denyut kehidupan masyarakat Sedari.

img-20161118-wa0005

Kak Alfian kerung menatap silau matahari, hihi. (Photo by Kak Emil)

img_20161117_160917

Kokoh berdiri : Jembatan akses menuju Desa Sedari

Oleh-oleh dari Sedari dan Cimalaya

Tepat dua minggu yang lalu (Kamis-Jum’at, 17-18/11/2016) -atas izin Allah- saya dan ketujuh belas finalis writing competition yang diadakan oleh SKK Migas sangat merasa beruntung sekali karena diundang untuk mengunjungi 2 desa binaan yang berada di wilayah operasi Pertamina Hulu Offshore North West Java (PHE ONWJ) masing-masing mengunjungi Desa Sedari, Kab. Karawang (17/11) dan Desa Cilamaya Girang, Kab. Subang (18/11).

Halo! Merasa ada yang aneh? Yap, postingan ini sebelumnya merupakan rangkuman perjalanan #JalanJalanMigas hampir 1 bulan yang lalu. Karena dirasa terlalu panjang, postingan ini saya bagi menjadi 2 postingan :

Menjembatani Asa Sedari dan Kapal Nabi Nuh ala Cimalaya Girang

Selamat membaca!

The (long-awaited) Day

Hari ini (17/11), mungkin akan menjawab rasa penasaran saya -mungkin juga para finalis- atas pertanyaan bagaimana suatu industri hulu migas bisa berjalan, serta dampaknya terhadap komunitas masyarakat yang tinggal di lingkar industri tersebut. Ya, 20 finalis writing competition “Membesarkan Bangsa Bersama Industri Hulu Migas” yang diselenggarakan oleh SKK Migas itu hari ini akan mengunjungi wilayah kerja PHE ONWJ di Tanjung Sedari, Karawang, Jawa Barat, dan dilanjutkan menuju Ekowisata Cimalaya (18/11).

Antusiasme yang tinggi mungkin tidak bisa terungkap dalam kata, apabila keinginan itu telah ditetapkan dan diperjuangkan dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Mereka mungkin telah berkali-kali gagal, namun mereka yakin bahwa hal tersebut akan terwujud. Keberanian untuk yakin itulah, hingga Allah ridha menurunkan rahmat-Nya sehingga keinginan hamba-Nya dapat terwujud.

Bismillahirrahmanirrahim.

Jakarta, 17 November 2016
Duduk manis di Elf, menanti sarapan di rest area

Memupuk Harap di Laut Dalam

west-seno-project-awb-penta-perkasa

Berbicara mengenai minyak dan gas bumi (migas) terasa kurang lengkap tanpa mengaitkannya dengan pembangunan Indonesia. Bagaimana tidak, industri hulu migas masih menjadi salah satu motor penggerak pembangunan negeri ini. Industri hulu migas telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pembangunan Indonesia baik itu kontribusi finansial maupun kontribusi terhadap keberadaan industri yang mendorong tumbuhnya perekonomian di daerah. Oleh karena itu, minyak dan gas bumi merupakan sumber daya alam yang sangat strategis bagi Indonesia, baik sebagai penghasil devisa maupun sebagai salah satu sumber pasokan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Pada tahun 2015 kebutuhan konsumsi minyak nasional mencapai 1,6 juta barel per hari (bph). Hal tersebut tidak diimbangi dengan jumlah produksi minyak nasional yang hanya mencapai 820 sampai 830 ribu bph. Meskipun produksi minyak Indonesia terus menurun, namun pada tahun yang sama, sektor migas masih mampu menyumbang 224,3 Triliun dalam APBN atau 55% dari total Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Hal tersebut menunjukkan kontribusi sektor migas terhadap kemakmuran rakyat sebab semua uang penerimaan Negara langsung masuk kedalam APBN dan kemudian digunakan untuk pembangunan Indonesia.

Ancaman Krisis Energi

Indonesia memiliki beberapa potensi sumber daya energi fosil diantaranya minyak bumi dan gas bumi. Pada tahun 2014, cadangan terbukti minyak bumi sebesar 3,6 miliar barel dan gas bumi sebesar 100,3 TCF. Bila diasumsikan tidak ada penemuan cadangan baru, maka minyak bumi akan habis 12 tahun dan gas bumi akan habis 37 tahun. Cadangan ini bahkan akan lebih cepat habis dari tahun yang disebut diatas karena kecenderungan konsumsi energi fosil yang terus meningkat.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus menerus Indonesia terancam mengalami krisis energi. Industri hulu migas sebagai aktor utama penyedia sumber energi dan penggerak perekonomian nasional kini dituntut untuk berusaha mencari terobosan baru yang memungkinkan ditemukannya cadangan baru. Penemuan cadangan baru sangat diperlukan tidak hanya untuk mempertahankan produksi migas, tetapi juga untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Harapan itu Berada di Laut Dalam

Salah satu tantangan besar yang dihadapi industri hulu migas adalah prospek cadangan saat ini lebih banyak berada di kawasan timur, terutama laut dalam. Dilansir dari laman metrotvnews.com, berdasarkan data Litbang Kementerian ESDM, sekitar 70 persen cadangan migas Indonesia terdapat di cekungan-cekungan tersier dan lebih separuhnya terletak di laut dalam. Indonesia sendiri sudah memiliki tiga proyek laut dalam, yang terdiri dari Indonesia Deepwater Development (IDD), Lapangan Abadi Blok Masela, dan Lapangan Jangkrik Blok Muara Bakau. Ketiga proyek laut dalam tersebut harus menjadi prioritas untuk terus dikembangkan mengingat industri hulu migas saat ini berada dalam situasi sulit, seperti minimnya penemuan cadangan baru dari kegiatan eksplorasi, lesunya iklim investasi, hingga harga minyak dunia yang stagnan di kisaran harga 45-50 USD.

Namun, di tengah lesunya harga minyak dunia yang tak kunjung membaik sejak dua tahun silam ditambah isu krisis energi yang menghantui Indonesia, kabar baik berhembus dari Selat Makassar. Bulan Agustus lalu, Lapangan Bangka yang merupakan salah satu bagian dari proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) telah mulai memproduksi gas bumi. Produksi pertama ini tentunya menjadi angin segar di tengah isu sulitnya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di laut dalam yang beresiko tinggi (high risk), berbiaya tinggi (high cost), dan juga berteknologi tinggi (high technology).

Oleh karena itu, kolaborasi yang harmonis antara pemangku kepentingan dan pelaku usaha industri migas sangat dinanti oleh rakyat Indonesia. Geliat positif industri hulu migas di laut dalam diyakini menjadi salah satu katalisator kemajuan bangsa Indonesia. Dengan berkembangnya kegiatan industri hulu migas di laut dalam diharapkan dapat meningkatkan gairah berinvestasi para investor, bahkan menyanggupi untuk melakukan kegiatan eksplorasi migas di laut dalam. Apresiasi tentunya juga layak diberikan kepada para pemangku kepentingan dan pelaku usaha industri hulu migas yang telah berusaha maksimal agar roda industri migas Indonesia tetap berputar di tengah jalan terjal industri migas dunia akibat tekanan harga. Hingga pada akhirnya, harapan 250 juta lebih rakyat Indonesia untuk mencicipi hasil kekayaan alam negerinya sendiri seperti yang tersurat dalam UUD 45 Pasal 33 tidak tenggelam di laut dalam.

Referensi

http://m.liputan6.com/bisnis/read/2579245/produksi-minyak-nasional-capai-820-ribu-barel-per-hari

http://www.kemenkeu.go.id/wide/apbn2015

BPPT – Outlook Energi Indonesia 2016

http://m.metrotvnews.com/read/2016/07/28/561663/potensi-migas-di-laut-dalam-indonesia-masih-sangat-besar

http://www.esdm.go.id/berita/40-migas/5475-tiga-proyek-deepwater-jadi-andalan-produksi-gas-masa-depan.html

http://www.skkmigas.go.id/proyek-idd-mulai-produksi-gas

Membangun Spiritualitas Pengelolaan Lingkungan Tambang

Keberadaan aktivitas pertambangan baik dalam skala besar maupun skala kecil tentu akan memberikan dampak terhadap keberlangsungan ekosistem di sekitarnya. Ekosistem sekitar tambang akan mengalami degradasi, sebuah peristiwa menurunnya fungsi ekosistem yang disebabkan oleh kerawanan, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Salah satu komitmen PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara tambang dan ekosistem adalah dengan menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) ISO 14001. SML merupakan bagian dari kegiatan operasional PTNNT, yang membidani terbentuknya standar kinerja bidang pengelolaan lingkungan.

Namun sebuah standar kerja dirasa tidak cukup untuk menjaga ekosistem sekitar tambang agar tetap berlangsung. Sebuah kesadaran yang tulus, ikhlas, dan tanpa keterpaksaan adalah pilar utama pengelolaan lingkungan tambang. Upaya yang dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran tersebut adalah dengan membangun spiritualitas pengelolaan lingkungan tambang. Membangun spiritualitas sama saja dengan menanam rasa tanggung jawab di setiap elemen pertambangan, baik itu pelaku pertambangan ataupun pemerintah.

Setelah rasa tanggung jawab tersebut tumbuh, maka kegiatan pengelolaan lingkungan tambang akan terlaksana dengan penuh sukacita, tulus, dan ikhlas tanpa embel-embel sebuah kepentingan. Pengelolaan lingkungan tambang yang dilandasi nilai spiritual memiliki ‘nilai tambah’ yang tak ternilai harganya, karena dilakukan berdasarkan iman kepada Tuhan.

Referensi :

http://www.ptnnt.co.id/id/pengelolaan-lingkungan.aspx diakses pada 20 Januari 2016.